firefly from the east

but you will... never get to see these tears... I cry..



“Eh, katanya kau adalah orang bijak.. saya mau nanya: saya udah membuuunuuh 999 orang, saya masih bisa dimaafkan nggak nih?”, tanya Accank dengan enteng sambil menodongkan pisau di leher seorang pria tua renta.

“Maa..mana bisaa...”, jawab kakek itu gemetar. Suasana pun makin mencekam, si kakek keringatan. 

“Kalau begitu, jadilah yang ke-1000...”

“Aaaaaaaaaaaaaaarrrgghh...”

Darah segar mengalir, terciprat-ciprat. Sang kakek kejang-kejang kayak ayam digorok lehernya. Air matanya keluar, sayatan lubang di lehernya menganga. Si kakek pun wafat di tengah hutan tanpa seorang warga desa pun yang melihatnya.

Si Accank kembali ke desa. Ia berjalan menuju warung makan dan menendang pintunya, “Bruuukk..”. Semua orang menoleh. Para bapak-bapak ketakutan, anak-anak kecil berhenti menangis. Tak ada satu pun yang berani bersuara. Bahkan seekor anjing pun tidak berani menyalak ketika melihat Accank.

“Hoiii... Ada di sini orang pintar?”, tanya Accank sambil memukul meja keras-keras.

Semua orang terdiam.

Accank mengulangi pertanyaannya, “Ada yang tau??? Di mana ada orang pintar? Orang yang bisa saya tanya-tanya???”

Semua orang menjadi tegang, menunduk, berkeringat. Seorang musafir yang sedang duduk di dekat pintu tidak sengaja menjatuhkan sendoknya, “claank...claank...”. Sebagian warga ada yang menoleh melihat sendok itu, sedangkan sisanya menelan air liur seraya membayangkan apa yang sekiranya akan terjadi pada pemuda musafir tersebut. Seorang bapak-bapak yang duduk di samping musafir itu langsung menggenggam tangan pemuda musafir seolah memberi isyarat untuk jangan bergerak, diam di tempat.

“Eh, KAUU... Kau seorang pengembara toh?”, tanya Accank membelalak.

“I-iyaa...”, jawab musafir itu gugup dicampur rasa takut.

“Pasti kau tau orang pintar yang kira-kira bisa menjawab pertanyaanku. Kau kan pengembara, pasti udah banyak orang yang udah kau temui.”, Accank memaksa.

Musafir itu blank, pikirannya tiba-tiba menjadi kosong. Ia bingung harus berkata apa. Namun, ia tau bahwa pria yang mengancamnya pakai pisau itu tidak main-main. Ia berpikir keras, sangat keras. 

“HAYOO..SIAPAAA??”, Accank membentak.

“Tu-tunggu sebentar mas...saya berpikir dulu...”

“Ooh..oke..oke...jangan pake lama nah...10 DETIK SAJA!!! 9...8...7...6...5...!!!”

Musafir itu mulai berujar, “Hmmm... anu... eeeeh..”

“ANU APA??? 4..3...2....”

“Kalau tidak salah ingat, ada seorang syaikh di gunung sebelah Timur sana... Beliau adalah orang yang sangat berilmu. Mungkin ia sanggup menjawab semua pertanyaan-pertanyaanmu. Namanya Syaikh Hasan“, jawab musafir itu cepat.

“Ooh gitu kah... Awas kalau tidak ada! Mati Kau!”, ancam Accank sambil menghujamkan sebilah pisau ke atas meja musafir itu. Pisau itu tertancap tepat di sela-sela antara jari tengah dan jari telunjuk si musafir.

Accank mengambil banyak makanan di warung tersebut dan membungkusnya ke dalam lembaran kain seperti layaknya seorang perampok. Ia pun langsung pergi ke arah gunung tanpa berkata-kata lagi. Warga desa menghela nafas.

***

“Eh, kau orang tua yang di sana”, kata Accank kepada seorang tua yang sedang memberi makan pada ayam peliharaannya.

“Saya?”

“Iya, kau...”, jawab Accank sambil menunjuk muka syaikh, “Kau kah yang namanya Syaikh Hasan?”, lanjut Accank.

“Na’am... iya, benar sekali.. Ada apa gerangan? Ada kah hal yang bisa saya bantu?”, tanya syaikh lembut.

“Ada pengembara yang bilang kalau syaikh bernama Syaikh Hasan yang tinggal di gunung ini adalah orang yang berilmu. Jadi, mungkin kau bisa menjawab pertanyaanku”, jelas Accank.

“Pertanyaan apa?”

“saya udah membuuunuuh 1000 orang, masih bisa dimaafkan kah itu?”

“Hmm... Iya, masih bisa...”, jawab syaikh tenang.

Accank tersenyum. Baru pertama kalinya dalam hidupnya ada seseorang yang mengatakan bahwa dirinya masih bisa dimaafkan.

Accank bertanya lagi, “Kenapa bisa? Padahal saya yang bunuh bapaknya, mamanya, anaknya, bahkan kakek dan neneknya.”

Syaikh menjawab, “Sesungguhnya Allah, Tuhan kita, tidaklah beranak dan tidak pula diperanakkan. Manusia memang sulit memaafkan orang lain, tapi tidak dengan Allah. Sekalipun engkau membawa dosa sebesar gunung ini ataukah sebesar dunia ini, niscaya Ia pun sanggup untuk memaafkanmu jikalau engkau benar-benar mau bertobat, tidak mengulangi lagi kesalahanmu, dan menebus kesalahan tersebut dengan banyak-banyak melakukan kebajikan.”

Accank tersentak, tercampur haru, inilah kata-kata yang telah sekian lama ditunggu-tunggu oleh Accank. Tak sadar, Accank mulai meneteskan air mata. Accank terdiam, tak tau lagi harus berkata apa.

Syaikh menatapnya lama, lalu kemudian berkata, “Bawalah anak ayam ini dan peliharalah. Setelah 3 bulan, datanglah kembali ke sini dengan membawa anak ayam itu. Niscaya engkau akan mempelajari sesuatu darinya.”

Accank pun pulang. Ia kembali ke desa dengan membawa seekor anak ayam yang masih berwarna kuning. Accank telah mulai berubah.

***

Hari-hari berlalu. Accank mendapat hobi baru yang lebih menyenangkan: memelihara anak ayam. Accank bahkan memberikan nama pada anak ayamnya. Aco namanya. Adakalanya Accank sengaja membiarkan Aco bertengger di punggungnya, bermain sama Aco, mandi sama Aco, bahkan ketika Accank pergi maka Aco mengejar-ngejarnya dari belakang. Aco menjadi seekor anak ayam yang lucu bagi Accank. Namun, hari-hari indah itu tidak berlangsung lama, Aco tiba-tiba sakit dan tidak lagi dapat berlari-lari seperti biasanya.

Malam itu hujan deras di bulan Desember. Guntur saling sahut-menyahut. Aco sekarat. Accank panik tak tahu harus berbuat apa. Accank memberinya makan, tapi Aco tidak mau makan. 

“Aco..Acoo...janganlah tinggalkan saya... hayo makanlah yang benar...”

Tetap saja Aco tidak makan. Aco hanya membuka matanya sedikit lalu kemudian menutupnya. Accank pun memutuskan untuk mencari pertolongan. Accank langsung membalut Aco dengan kain dan langsung menerobos derasnya hujan. Accank berlari seperti layaknya orang yang kesetanan. 

“Pak...pak...tolong...tolong...buka pintunya...tolong Aco!!!”, teriak Accank sambil menggedor-gedor pintu seorang warga desa yang sudah biasa berternak dan merawat hewan yang sakit.

Accank membuka balutan kain itu. Namun Na-as, Aco tak lagi bergerak maupun bernapas. Aco pada akhirnya telah meninggal dunia. Accank tak kuasa menahan air matanya yang mulai mengalir di pipi. Pada malam itu teman hidup yang selalu menemaninya kini telah tiada.

***

“Ada apa nak? Ini belum 3 bulan, kenapa sudah ke mari?”, tanya syaikh heran.

Accank terdiam, menunduk. 

“Mana si anak ayam? Sudah besar?”, tanya syaikh lagi.

Lagi-lagi mata Accank mulai berkaca-kaca.

Syaikh paham kalau pasti telah terjadi apa-apa pada anak ayam tersebut. Syaikh kemudian berkata:”Sesungguhnya syariat meminta kita untuk bekerja keras melakukan hal terbaik yang mampu kita lakukan dalam segala hal. Apabila kita telah berusaha semampunya namun tidak berjalan seperti apa yang kita harapkan, maka itu artinya sudah seperti itulah takdirnya. Yang penting kita sudah berusaha, bukan hanya duduk dan menanti datangnya keajaiban.”

“Tapi.. tetap saja sedih rasanya, syaikh...”

“Tidak apa-apa... Sedih atas kehilangan itu adalah pertanda sayang.. maka dengan demikian, kini engkau telah mengerti apa yang disebut dengan cinta.. dan engkau juga telah memahami bagaimana rasa sakit ketika kehilangan sesuatu yang kita sayangi...”

“Lalu apa yang harus kulakukan saat ini, Syaikh?”, tanya Accank.

Syaikh berpikir sejenak lalu kemudian berkata, ”Jikalau engkau mau... engkau bisa bekerja untukku, menggembalakan kambing-kambingku dan juga jika engkau sering-sering ke sini maka aku bisa mengajarkanmu banyak hal tentang hidup termasuk membaca dan menulis...engkau juga bisa bertanya apa saja yang engkau inginkan...”

Accank cuma mengangguk pertanda setuju.

***

Hari-hari pun berlalu. Accank mulai belajar banyak hal tentang hidup dengan banyak bertanya kepada syaikh. Syaikh pun telah mengajarkannya cara membaca sehingga Accank pun senantiasa membaca buku-buku milik syaikh yang tersimpan di rak-rak lemarinya. Accank telah tumbuh menjadi seorang yang berilmu dan pekerja keras. Ia menggembalakan kambing-kambing syaikh dengan giat, sabar, dan telaten. Accank telah benar-benar berubah. Hal inilah yang kemudian mendorong Syaikh Hasan untuk menikahkan putrinya yang bernama Aila kepada Accank dan kemudian dari pernikahan tersebut lahirlah seorang bayi perempuan yang mungil nan cantik.

Hidup Accank begitu sederhana dan bahagia. Ia rajin beribadah dan giat bekerja mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Accank pun pintar menabung. Tidak ada kendala dan tak ada kesedihan. Namun, setelah 5 tahun lamanya, kebahagian Accank pun teregut kembali. Musuh-musuh Accank dari desa tetangga telah menyusun rencana untuk membalas dendam kepada Accank karena telah membunuh bapak-bapak mereka, ibu-ibu mereka, anak-anak mereka, bahkan kakek-nenek mereka. La Baso dan La Besse kemudian memimpin sekitar 20 orang untuk menyerang Accank dan keluarganya, tetapi Accank sedang keluar menggembala kambing.

“Haloo Accank... Sudah pulang yah?”, tanya La Baso yang lagi menunggu di depan rumah Accank sambil memegang sebilah golok tajam yang mengkilat-kilat.

“Iya.. Ada perlu apa?”, jawab Accank sambil menoleh ke kiri dan ke kanan melihat banyaknya orang yang mulai mengepung dirinya.

“Tidak apa-apa... kami cuma mau tanya apakah kau kenal dengan orang ini?”, kata La Besse, temannya La Baso, yang sedang memegang karung berlumuran darah dan kemudian mengeluarkan kepala Syaikh Hasan yang sudah dipenggal.

“Syaiikh...”, teriak Accank.

“Masih ada...”, kata La Besse sambil mengeluarkan dari karung kepala Aila, istri Accank, kemudian yang terakhir ia mengeluarkan kepala anak perempuan Accank yang masih balita dan masih lucu-lucunya itu.

Hati Accankk sedih bukan main. Rongga dadanya serasa terbakar. Jiwanya seolah memberontak, meletup, membuncah. Accank marah.

“Hahahahahahahaha... MATI KAU!!!”, tawa La Baso sambil mengayunkan goloknya ke arah Accank.

Accank menghindar dan kemudian mengayunkan tongkatnya (tongkat penggembala) tepat ke arah kepala La Baso. La Baso langsung jatuh pingsan. Accank bisa saja membunuhnya dengan tongkatnya, tetapi Accank menahan diri.

Orang kedua, si La Besse, mencoba menebas Accank dari belakang. Namun, Accank langsung menepisnya dengan tongkat dan kemudian meninju ulu hatinya sampai terjungkal berguling-guling menabrak pohon pisang. Pohon pisang pun rubuh karenanya. Orang ketiga dan keempat tidak mau ketinggalan. Mereka menyerang bersamaan dengan parangnya, tetapi Accank terlalu lincah. Mereka ditendang kayak bola dan mendarat di empang, sedangkan yang satunya terlempar ke kandang ayam dan patah tulang rusuknya.

Orang kelima, keenam, ketujuh, dan kedelapan mencoba menyodok Accank dari jauh dengan tombaknya. Tapi tak disangka Accank malah melempari orang kelima dengan tongkatnya, merebut tombaknya, dan kemudian memukuli mereka semua hanya dengan sekali ayunan. Orang kelima, keenam, ketujuh, dan kedelapan semuanya tumbang kayak boneka.

Orang-orang mulai ketakutan, gemetar. Tidak ada yang berani mendekati Accank. Orang kesembilan dan kesepuluh memungut batu dan melempari Accank dari jauh karena takut menyerang dari dekat. Namun, Accank memukul batu tersebut keras-keras dan mengembalikan batu itu lima kali lebih cepat dan lebih kuat daripada lemparan mereka.

Orang-orang makin ketakutan dan sebagiannya serasa ingin melarikan diri tapi tak bisa, kaki mereka seolah terkancing, tak bisa bergerak sama sekali. Rumor tentang Accank si Pembunuh 1000 orang rupanya bukan sekedar rumor belaka. Inilah si Accank Sang Legendaris, berdiri kokoh di depan mereka semua. Ia benar-benar terlalu kuat untuk dikalahkan.

Accank mendekati La Besse yang tadinya memegang kepala syaikh dan keluarganya. Accank bergulat dengan rasa emosinya, marah yang membakar dadanya. Namun, sekali lagi, Accank pun menang walaupun melawan dirinya sendiri. Accank memang menghunuskan mata tombak ke leher orang tersebut, tetapi Accank menahan dirinya. Accank sudah tidak ingin membunuh lagi.

“Bunuh saja...”, kata La Besse pasrah.

“Tidak...”, jawab Accank sambil menarik tombaknya.

“Kenapa kau tidak mau membunuhku?”

“Sebenarnya saya ingin sekali membunuhmu.. saya sanggup melakukannya, tetapi saya teringat dengan kata-kata syaikh dan hal itu membuatku berpikir bahwa saya pun juga dulunya pernah menjadi sepertimu, bahkan lebih buruk darimu...”, kata Accank dengan mata yang mulai berkaca-kaca, “Saya cuma mengharap ampunan dari Tuhanku... Dengan mengampuni nyawamu, maka kuharap Tuhanku pun dapat mengampuni dosa-dosaku kelak..”

Semua orang terdiam mendengar kata-kata Accank, menunduk.

“Saya hanyalah seorang pembunuh yang ingin bertaubat dari jalan yang sesat, maka apakah itu tidak boleh?”, kata Accank melanjutkan.

La Besse kemudian berkata, “Kalau kau tak mau membunuhku, maka kau harus bertanggung jawab kepadaku, Accank!!!”

Orang-orang menjadi tegang mendengar perkataan La Besse. Berani-beraninya ia meminta pertanggung jawaban kepada Accank setelah membunuh keluarganya.

“Bertanggung jawab apa?”, tanya Accank.

“Kau bertanggung jawab untuk mengajari kami bagaimana caranya bertaubat! Karena aku tak mau engkau membunuh 1000 orang tapi berada di surga, sedangkan kami yang cuma membunuh 1-3 orang tapi malah tempatnya di neraka.”

Accank ingin tersenyum mendengar kata-kata tersebut, tapi ia tak bisa lantaran kesedihan yang menyelimuti hatinya. Accank hanya dapat berkata pada La Besse, “Akan kupenuhi tanggung jawab tersebut.”

Orang-orang pun mulai menangis satu per satu kayak anak kecil. Semuanya menjatuhkan senjatanya, meminta maaf kepada Accank. Accank pun kemudian masuk ke rumahnya untuk memandikan, mengkafani, men-shalatkan, dan kemudian menguburkan mayat keluarganya bersama musuh-musuh yang kini menjadi sahabatnya. Semenjak hari itu, mereka semua bertaubat. Mereka juga mengangkat Accank sebagai imam sekaligus guru dan pemimpin mereka.

Kisah tersebut kemudian tersiar ke seluruh negeri dan desa. Seluruh penduduk ikut terharu dan datang berbondong-bondong untuk bertemu dengan Accank. Karenanya, semua pembunuh di desa berhenti membunuh, semua perampok berhenti merampok, semua penipu berhenti menipu, pelaku maksiat berhenti bermaksiat. Seluruh negeri bertaubat dan terinspirasi oleh kisah Accank.

Siapa pun di negeri itu yang mendengarkan kisah tersebut, tiba-tiba saja langsung mengingat  pada dosanya, bertaubat, dan berusaha tidak mengulangi lagi kesalahannya. Ketika Accank telah wafat pun, seluruh negeri masih mengenang dirinya. Itulah yang kemudian menjadi amal jariyah bagi Accank karena semua orang mencontoh dirinya. Dan semuanya itu bermula dari sebuah pertanyaan sederhana dari seorang pembunuh: “Apakah saya masih bisa dimaafkan?”