firefly from the east

but you will... never get to see these tears... I cry..




Seorang khalifah bernama Umar bin Abdul Aziz (salah satu cucu dari Umar bin Khattab) sering menerima kurir pembawa berita dari sebagian penjuru daerah kekuasaannya. Lalu pada suatu hari ada seorang kurir yang sampai di tempatnya tepat pada saat malam telah tiba. Dia pun mengetuk pintu rumahnya dan disambut oleh penjaga pintu. Kurir tersebut berkata, “Beritahukan pada Umar bin Abdul Aziz kalau ada utusan dari fulan, pegawainya.” Umar pun diberitahu –saat dia akan beranjak tidur-, dan dia pun langsung duduk seraya berkata, “Izinkan dia masuk.”

Utusan itu masuk. Kemudian Umar mengambil lilin yang besar, lalu dinyalakannya. Setelah itu, dia mempersilahkan utusan tersebut duduk. Kemudian bertanya kepada utusan itu bagaimana kondisi para penduduk, baik kaum muslimin maupun orang-orang dzimmi, bagaimana perilaku pegawainya, bagaimana harga barang-barang di kota tersebut, bagaimana dengan anak-anak keturunan kaum Muhajirin, Anshar, ibnu sabil, dan orang-orang miskin, apakah semuanya mendapatkan haknya? Apakah ada keraguan dalam diri mereka tentang hak itu dan apakah ada orang yang terzhalimi? Semua pertanyaan itu dikemukakan Umar kepada utusan tersebut.

Utusan pun memberitahukan segala hal yang diketahuinya. Semuanya dia kemukakan sampai tidak ada satupun yang tersisa atau disembunyikan. Setelah Umar selesai menyakan berbagai hal, utusan itu balik bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, bagaimana dengan kesehatanmu? Bagaimana kesehatan keluarga dan seluruh bendaharamu? Siapakah yang engkau tunjuk untuk mengurusi perbendaharaan negara?”

Mendengar pertanyaan itu, Umar meniup lilin tersebut sehingga padam dengan sekali tiupan. Kemudian dia berkata, “Wahai pemuda… saya masih punya lampu.” Kemudian dia mengambil lampu sumbu yang nyalanya hampir saja meredup. Setelah itu dia berkata, “Sekarang, tanyakanlah apa yang ingin kamu tanyakan.” Utusan itu bertanya kepada Umar tentang kesehatannya, Umar pun memberitahu tentang kesehatannya, anak lelakinya, dan keluarganya kepada utusan tersebut.

Namun, utusan tadi merasa heran dengan tindakan Umar yang mematikan lilin sehingga dia pun bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, saya lihat engkau melakukan sesuatu yang belum pernah aku lihat dilakukan oleh orang lain.” Umar balik bertanya, “Apa itu?”

Utusan itu menjawab, “Engkau mematikan nyala lilin itu saat aku bertanya tentang kesehatanmu.”

Umar berkata, “Wahai hamba Allah, lilin itu adalah harta milik Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan kaum muslimin. Saat saya bertanya kepadamu tentang berbagai kebutuhan dan permasalahan mereka, maka nyala lilin itu adalah untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka. Sedangkan saat engkau bertanya tentang kondisiku dan keluargaku, maka aku pun mematikan nyala lilin kaum muslimin itu.”

0 komentar: